Senin, 14 Juni 2010

MENJAGA KESEHATAN KEUANGAN KELUARGA

Keluarga merupakan elemen masyarakat terkecil yang menunjukkan miniatur masyarakat. Dalam keluarga, perlu pengelolaan keuangan yang baik. Jika keluarga-keluarga dalam masyarakat menerapkan sistem pengelolaan keuangan yang baik, hal tersebut akan memberikan efek positif terhadap kondisi perekonomian masyarakat.
Masalah yang sering dihadapi oleh keluarga adalah pengelolaan keuangan. Secara umum permasalahan tersebut terfokus pada membengkaknya pengeluaran, yang disebabkan oleh belum adanya perencanaan, jika pengeluaran itu benar-benar terjadi. Efek jangka panjang yang ditimbulkan adalah semakin bertambahnya hutang sehingga kondisi keuangan setiap bulan selalu minus (penghasilan rutin bulanan hanya digunakan untuk menutup hutang). Jika kondisi ini berlanjut maka efek lanjutan yang ditimbulkan adalah menurunnya etos kerja dan kinerja, stress dan depresi yang berkepanjangan. Hal tersebut semakin diperparah dengan gaya hidup yang tidak bisa berubah.
Menjadi suatu hal yang sifatnya sangat perlu, ketika melihat akibat akhir yang ditimbulkan, karena tidak sejalan dengan tujuan dibentuknya keluarga. Sehingga perencanaan keuangan sangat diperlukan terutama bagi orang-orang yang ingin membentuk keluarga dengan kondisi keuangan yang sehat. Untuk mendeteksi kondisi keuangan keluarga, ada beberapa parameter yang bisa dijadikan sebagai indikator. Sehat dan tidaknya keuangan keluarga bisa diukur dengan melihat (1) proporsi pengeluaran terhadap pemasukan, dan (2) komposisi pengeluaran.
Penjelasan mengenai hal tersebut sebagai berikut, (1) proporsi pengeluaran terhadap pemasukan, merupakan perbandingan antara pengeluaran dan pemasukan dalam keluarga tersebut. Jika perbandingan tersebut menunjukkan angka lebih dari 1, maka kondisi keuangan keluarga tersebut tergolong tidak sehat. Jika perbandingannya menunjukkan angka 1, maka kondisi keuangan keluarga tersebut tergolong mengkhawatirkan, dan jika perbandingannya menunjukkan angka kurang dari 1, maka kondisi keuangan keluarga tersebut tergolong sehat. Pengeluaran dan pemasukan tersebut dihitung dalam jangka waktu satu tahun terakhir.
Sedangkan untuk (2) komposisi pengeluaran merupakan alokasi pendapatan yang digunakan untuk macam-macam pembelanjaan. Pembelanjaan meliputi pembelanjaan konsumsi (pangan), angsuran hutang, transportasi, belanja pakaian, pendidikan, kesehatan, kemasyarakatan dan tabungan. Normalnya, angsuran hutang adalah tidak melebihi 30% dari pendapatan. Jika komposisi pengeluaran didominasi oleh hutang, maka keuangan keluarga tersebut bisa dikatakan tidak sehat. Komposisi yang sehat ditunjukkan dengan sebaran yang proporsional dalam hal pembelanjaan, alokasi untuk konsumsi kebutuhan pokok, kemudian ada alokasi pendapatan untuk tabungan yang besarnya minimal 10% dari pendapatan.
Cara untuk menjaga kesehatan keuangan keluarga adalah dengan menerapkan sistem pengelolaan keuangan yang tepat. Berikut ini beberapa tips, dalam mengelola keuangan keluarga :
1. Menerapkan skala prioritas dalam mengatur pengeluaran.
Belanja berdasarkan kebutuhan, bukan karena penawaran (apalagi dan bukan karena harga murah). Mempersiapkan daftar kebutuhan sebelum berbelanja, dan komitmen terhadap daftar yang telah dipersiapkan. Jangan tergiur dengan banyaknya tawaran diskon, yang kadang kita tidak berfikir panjang dalam berbelanja.
2. Menambah pendapatan dengan mengoptimalkan waktu yang kita punyai (waktu senggang setelah bekerja), memanfaatkan hobby, dan juga sumberdaya yang barangkali untuk saat sekarang belum begitu optimal pemanfaatannya (bisa berupa lahan kosong, kendaraan yang jarang dipakai, komputer yang jarang dipakai, atau bisa berupa aset yang hanya ditabung saja) sebagaimanan dijelaskan oleh Ahmad Ghozali (Perencana Keuangan). Beberapa hal tadi bisa dimanfaatkan dengan cara sebagai berikut :
a. Waktu senggang setelah pekerjaan utama, bisa dimanfaatkan untuk bekerja sambilan yang tidak begitu menghabiskan tenaga, seperti menjadi penjaga warnet dan mengajar privat.
b. Hobby, yang selama ini hanya sekedar menjadi penghilang stress, bisa diarahkan sekaligus untuk menambah penghasilan, misal : berkebun, memelihara ikan hias, dan memasak.
c. Sumberdaya nganggur, bisa dioptimalkan pemanfaatannya, lahan kosong bisa disewakan, komputer bisa digunakan untuk menerima ketikan, kendaraan yang jarang dipakai, bisa disewakan di persewaan kendaraan, dan aset bisa diinvestasikan.
3. Menabung
Seperti yang disampaikan oleh Thomy (2009) dalam tulisannya yang berjudul Tips Pengelolaan Keuangan Keluarga Buat yang Penghasilannya Pas-pasan, bahwa mengalokasikan pendapatan untuk tabungan dilakukan di awal waktu, sebab jika tabungan diakhirkan maka yang terjadi adalah selamanya kita tidak akan menabung. Kalau kita susah menabung, kita bisa mencari produk Bank berupa simpanan yang langsung dipotong dari rekening gaji, dan hanya bisa diambil pada waktu tertentu.
4. Menunaikan kewajiban spiritual yang berkaitan dengan harta. Thomy mencontohkan dengan membayar zakat dan bersedekahlah. Zakat adalah kewajiban dan jadikan sedekah sebuah kebutuhan, percayalah Anda pasti akan mendapat pengembalian berlipat di dunia, sekaligus akhirat.
Ketika setiap keluarga bisa menjaga kesehatan keuangan keluarganya masing-masing dengan baik, maka keluarga impian (keluarga kita surga kita) akan terealisasi. Kunci dari semua itu adalah terletak pada bagaimana kita mengelola keuangan, dan bukan pada besar kecilnya pendapatan. Apapun dan siapapun kita, yang penting, kita berpenghasilan dan belajar untuk mengelola penghasilan tersebut dengan baik dengan menerapkan prinsip-prinsip di atas. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar: